Menghadapi Pasangan yang Sulit Berubah

Masih ingatkah Anda akan impian dan harapan yang ada dalam benak Anda pada saat akan menikah dulu? Kemungkinan besar Anda pasti berharap kalau calon suami/istri Anda tersebut adalah seseorang yang akan terus menunjukkan cinta, perhatian, pengertian, dukungan, dan sebagainya, kepada diri Anda. Namun kini, bagaimana realitasnya? Kalau mau

jujur, apakah harapan tersebut masih sesuai dengan kenyataan yang ada?

Para ahli pernikahan berpendapat bahwa banyak pasangan yang pada awalnya memiliki ekpektasi yang tinggi terhadap pasangannya, di kemudian hari menuai banyak kekecewaan. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa jika seseorang memasuki pernikahan dengan suatu pengharapan bahwa pada akhirnya ia akan menemukan kebahagiaan melalui diri pasangannya, maka ada kemungkinan ia tidak akan menemukannya.

Salah satu masalah yang sering dikeluhkan bagi mereka yang telah menikah adalah masalah kepribadian atau kebiasaan pasangan yang sulit berubah. Tidaklah mengherankan jika banyak suami/isteri yang kemudian mengatakan bahwa mereka tidak tahan lagi dengan sikap atau perbuatan pasangannya (Norman Wright).

Terhadap hal ini kita perlu berhati-hati, sebab di balik keinginan kita untuk mengubah kebiasaan/kepribadian pasangan kita, tersembunyi suatu motivasi yang sangat egois (self-centered).

Para ahli pernikahan menyebutkan ada dua alasan utama mengapa kita ingin mengubah kepribadian/kebiasaan pasangan kita. Pertama, kita ingin pasangan kita berlaku seperti yang kita lakukan (replikasi/duplikasi), apalagi jika kita beranggapan bahwa cara kitalah yang paling benar. Kita ingin “mengkloning” pasangan kita. Kedua, kita ingin pasangan kita memenuhi kebutuhan kita. Semakin tinggi kebutuhan kita, semakin besar agenda yang kita siapkan bagi pasangan kita.

Tidaklah mengherankan jika banyak suami/istri yang memiliki kedua motivasi di atas akan mengalami rasa frustrasi, stres, dan putus asa jika tuntutan mereka tidak tercapai. Mereka tidak menyadari bahwa pasangan mereka bukanlah “robot” yang dapat dikendalikan semaunya. Selama konsep mereka terhadap pernikahan tidak berubah, sangatlah sulit untuk berharap kalau mereka dapat “mengerjakan pernikahan” mereka tersebut.

Meskipun demikian, hal tersebut bukanlah berarti tidak ada jalan keluar bagi pernikahan yang sedang dirundung masalah, namun patut diingat bahwa tidak akan pernah ada solusi yang instan untuk mengatasi berbagai persoalan dalam pernikahan. Mungkin saja dibutuhkan waktu yang cukup panjang, yang menguras emosi, energi, harga diri, dan sebagainya. Terhadap kondisi yang demikian adalah baik jika kita tidak berhenti untuk berharap, sebab bukankah adanya harapan merupakan salah satu tanda bahwa kita adalah manusia yang beriman kepada-Nya?

Dalam membangun sebuah harapan terhadap pernikahan, ada sebuah konsep yang patut untuk dipikirkan dan direnungkan, yakni bahwa tujuan utama yang sesungguhnya dari sebuah pernikahan bukanlah untuk memperoleh kebahagiaan, melainkan sebagai sarana untuk saling bertumbuh secara karakter (Yakub Susabda).

Hal ini bukan berarti bahwa kita tidak membutuhkan kebahagiaan, namun jika kita menempatkan “perasaan bahagia” (yang sangat temporer sifatnya) sebagai ukuran mutlak dari sebuah pernikahan. Maka tidaklah mengherankan jika begitu banyak pasangan yang bercerai hanya karena merasa sudah tidak bahagia lagi dengan pasangannya. Erich Fromm, salah seorang psikolog terkenal, mengatakan bahwa mencintai seseorang bukan hanya sekadar perasaan yang menggebu-gebu–melainkan sebuah keputusan, sebuah janji. Jika cinta hanya sekadar perasaan, tidak akan pernah ada dasar untuk berjanji saling mencintai selamanya. Oleh karena itu, perubahan paradigma terhadap tujuan pernikahan seperti yang dikatakan di atas harus segera diwujudkan.

Salah satu faktor yang menentukan dari pertumbuhan karakter tersebut adalah bagaimana kita beradaptasi dan menyesuaikan diri (fleksibel) terhadap kebiasaan/kepribadian tertentu dari pasangan kita (Norman Wright). Dapat beradaptasi dan fleksibel berarti tidak bersikap kaku, bisa menerima perbedaan-perbedaan yang ditemui di dalam diri pasangan, bisa melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan yang kemungkinan akan mengubah sistem hidup diri sendiri dan mengusahakannya terus-menerus.

Faktor adaptasi dan fleksibel ini melingkupi aspek pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development), di mana kedua hal ini membutuhkan banyak perubahan dan hanya pasangan yang mampu beradaptasi yang tentunya akan lebih mudah menerima perubahan-perubahan yang akan terjadi. Sehubungan dengan hal tersebut, setiap suami/ istri perlu menyadari bahwa perubahan itu hendaknya dimulai dari diri sendiri, sebab memang mudah untuk melihat seekor semut di mata pasangan kita, namun gajah di pelupuk mata sendiri tak disadari.

Jadi besar kemungkinannya pasangan kita akan berubah jika melihat diri kita sendiri telah berubah. Namun patut untuk diingat bahwa proses perubahan tentu tidak terjadi dalam waktu yang singkat, sebab membutuhkan waktu, kesabaran, dan usaha seseorang. Dirinyalah yang bertanggung jawab untuk berubah, bukan pasangannya (Lanny Pranata).

Oleh karena itu, daripada terus memaksa pasangan kita menjadi seperti diri kita, adalah lebih baik jika kita menangkap keuntungan dari perbedaan yang ada, sebab penggabungan/integrasi dua sudut pandang yang berbeda akan memberikan hasil yang lebih baik. Hal tersebut seperti melihat hanya dengan menggunakan sebelah mata. Kita akan kehilangan persepsi yang dalam. Hal tersebut terjadi karena kita hanya melihat dengan satu sudut pandang saja.

Sudah barang tentu itu bukan merupakan suatu hal yang salah jika kita ingin pasangan kita memenuhi kebutuhan kita, namun hal tersebut menjadi salah jika kita hanya mementingkan diri kita sendiri dan memandang pasangan kita impersonal. Untuk mencegah sikap yang demikian, pertimbangkanlah faktor-faktor berikut ini. Pertama, Tuhan memang merancang setiap individu itu unik dan berbeda satu sama lain. Bila kita menyadari realitas ini, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan/kepribadian pasangan.

Kedua, sebagai makhluk dengan natur dosa dan penuh kelemahan, memang adalah lebih mudah bagi kita untuk melihat kekurangan pasangan kita dibandingkan kelebihannya. Usaahakanlah untuk berlaku sebaliknya.

Ketiga, terkadang letak akar permasalahannya bukanlah pada kebiasaan/kepribadian pasangan, melainkan karena kita sendiri tidak mampu melihat keunikan pasangan kita dan menyesuaikan diri terhadapnya.

Pernikahan itu ibarat dua ekor landak yang hidup di daerah dingin. Ketika salju turun dan udara menjadi sangat dingin, keduanya menjadi sangat kedinginan dan mulai saling merapatkan diri. Namun demikian, ketika mereka saling merapat, tanpa sadar mereka mulai saling menusuk dengan bulunya yang berduri. Kalau mereka memisahkan diri, mereka akan kedinginan lagi. Agar tetap merasa hangat, mereka harus belajar bagaimana saling menyesuaikan diri. Hal demikian juga berlaku dalam pernikahan. Jika kita benar-benar mengasihi pasangan kita, maka kita tidak akan menuntut suami atau istri kita agar menjadi seseorang dengan versi yang sesuai dengan “agenda pribadi” kita. Biarkanlah pasangan kita menjadi dirinya sendiri. Jadikan perbedaan yang ada sebagai sarana untuk bertumbuh secara karakter.

sumber : Fokus Pada Keluarga (Sinar Harapan)

Satu Tanggapan

  1. Info yang bagus !

    Barangkali informasi mengenai “sulit berubah” berikut, juga berguna bagi rekan rekan yang memerlukannya. Klik > Sulit Berubah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: